Kulari ke hutan, kemudian teriakku
Kulari ke pantai, kemudian menyanyiku
Sepi..sepi..sendiri aku
Anak gaul '90-an pasti kenal cuplikan baris puisi tersebut. Yakk, benar, dunia perpuisian mendadak populer dikalangan remaja gaul akibat pengaruh wajah unyu Nicholas Saputra (dulu). Akibatnya, para muda-mudi gemar bertukar puisi untuk sekedar menyatakan keromantisan mereka (jiaaahh). Untungnya puisi yang dipilih Riri Riza dalam film besutannya dan bukan gurindam atau juga pantun, saya tidak bisa membayangkan jikalau mereka saling berbalas pantun o.O.
Skip skip, disini saya akan fokus berceloteh mengenai keterkaitan pantai terhadap tingkat kegalauan diri dengan menggunakan sampel acak serta metode kuantitatif. Kalau di film-film, scene orang lagi galau, sedih, putus asa, pantai memegang urutan pertama sebagai destinasi utama sang galauer melarikan diri dari realita hidup (aduh apa ini bahasanya `-`). Ya mungkin effort-nya lebih kecil dibanding berkendara ke gunung, dan pake acara didaki pula, yang ada sudah galau tambah ngos-ngosan pula. Ditambah susasana pantai yang cenderung feeling blue membuat orang makin terbuai berada disana, atau sekedar berkontemplasi. Tapi tak sedikit yang menganggap pantai merupakan tempat pelepasan energi negatif dan penyerapan energi positif yang datang dalam bentuk riak dan gelombang. Senang-senang, gembira ria, main ciprat air layaknya bocah, teriak dan nyanyi-nyanyi gak jelas, just wanna have fun. Dan saya termasuk golongan yang terakhir ini ^`^.
Jadi pesan moralnya, jika ingin bernyanyi, yuk mari kita ke pantai ^`^
![]() |
| lupa tepatnya di pantai mana, entah Kukup atau Krakal atau malah yang lain ^^V (2012) |




No comments:
Post a Comment