Bagian Pertama
Seringkali bingung kalau ditanya, "Aslinya mana?" atau "Asli daerah mana?". Hihihi, habis kami keluarga campuran, Mama orang Batak tapi gak bisa bahasa Batak dan sudah lama menetap di Lirik Riau, sedangkan Papa asli orang Banjar yang meskipun sudah berpuluh tahun hidup di Kota Yogyakarta Berhati Nyaman (masih gak yah?) tetap saja gak bisa bahasa Jawa dan masih ber-ulun-pian-ikam. Saya cuma numpang lahir doang di Riau dan dari TK menetap di Yogyakarta pun masih gak fasih berbahasa Jawa dan sering diketawain kalau ngomong, katanya logatnya ga sesuai, duhhh (tapi kalau ada yang membicarakan saya dengan memakai Bahasa Jawa saya pasti akan ngeh lho O_O`).
Dan terakhir adik saya, lahir di Yogyakarta dan dia paling luwes Bahasa Jawanya, meskipun tampangnya seperti bule dengan rambut pirang ikal (dulu).
Dan terakhir adik saya, lahir di Yogyakarta dan dia paling luwes Bahasa Jawanya, meskipun tampangnya seperti bule dengan rambut pirang ikal (dulu).
Daaaann...setelah kami besar dan berumah-tangga, keluarga kami makin gado-gado. Adik menikah dengan Bundanya Maysha-Hijaz-Haura yang notabene orang Salatiga asliii, dan saya mendapatkan seorang pangeran (hohoho) keturunan Minang-Jawa yang sedari kecil sudah menetap di Jakarta, hahaha. Nah, sedangkan kakak suami saya keluarganya lebih gado-gado lagi, Solo-Gorontalo (jauh yahh) dan sudah menetap di Jakarta. Alhasil terjadi kehebohan kalau sudah mau Lebaran, harus merencanakan matang-matang dari jauh hari biar bisa kumpul dengan formasi lengkap.
Suka dukanya ada, tapi saat ini saya hanya membahas sukanya saja. Secara dengan keluarga yang berasal dari daerah yang berbeda-beda, tentu saja makanan khas tiap keluarga juga berbeda-beda, apalagi kalau pas Lebaran kumpul.
Kalau di rumah Yogya, menu ketupat besar dengan ayam bumbu habang plus sayur opor wajib hadir, ditemani keceriaan dan kerenyahan kerupuk udang. Ditambah lagi kalau keluarga Salatiga datang, rasanya senang sekali, karena sudah membayangkan roti "Wonder" yang gak pernah absen sebagai oleh-oleh wajib. Mau varian manis atau asin, endeess semua, apalagi bagelan kejunya, bisa habis satu toples sendiri. Nah di keluarga suami, menunya banyaaaaaaak buangeeeet, hahaha...dari menu lengkap ketupat sayur daun pakis, nangka plus opor, rendang, dendeng cabe merah, kadang dendeng ragi suka nongol juga, ayam panggang, dan gak lupa es teler made in Ibu. Kerupuknya juga lengkap, kerupuk ikan (yang kecil-kecil), kerupuk palembang, kerupuk merah dan emping. Pokoknya segambreng dehh, karena yang datang juga segambreng. Untuk ritual Lebaran di Jakarta, biasanya setelah Shalat Ied kami berkumpul di rumah keluarga Solo-Gorontalo. DIsana kamus perkulinerannya makin bertambah, kupat tahu, sate kere, nasi timlo, es palu butung, es timun, cemilan-cemilan khas Gorontalo yang gak pernah bisa hapal namanya, dan masih banyaaak lagi.
Seru sihh...apalagi karena saya doyan makan (hahaha) jadi makin memperkaya khazanah kuliner nusantara *tsaahhhh. Pe-er nya, saya harus rajin senam plus lari pagi, karena ga terasa berat badan saya semenjak nikah melonjak sangat tinggi berat T_T
*fotonya ga ada di koleksi pribadi, tapi nanti sewaktu Lebaran, akan saya dokumentasikan di sini
*fotonya ga ada di koleksi pribadi, tapi nanti sewaktu Lebaran, akan saya dokumentasikan di sini



No comments:
Post a Comment